KOMPUTER LEMBAGA KEUANGAN PERBANKAN – Perdagangan Internasional : Valuta Asing

Posted: April 10, 2011 in Komputer Lembaga Keuangan Perbankan
Tag:

KOMPUTER LEMBAGA KEUANGAN PERBANKAN

Murdiana Utami – 10208861 – 3EA11

Tugas 6

Perdagangan Internasional : Valuta Asing

Bursa valuta asing (Foreign exchange atau disingkat forex) atau disingkat bursa valas merupakan suatu jenis perdagangan atau transaksi yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia selama 24 jam secara berkesinambungan.

Mekanisme

Pergerakan pasar valuta asing berputar mulai dari pasar Selandia Baru dan Australia yang berlangsung pukul 05.00–14.00 WIB, terus ke pasar Asia yaitu Jepang, Singapura, dan Hongkong yang berlangsung pukul 07.00–16.00 WIB, ke pasar Eropa yaitu Jerman dan Inggris yang berlangsung pukul 13.00–22.00 WIB, sampai ke pasar Amerika Serikat yang berlangsung pukul 20.30–10.30 WIB. Dalam perkembangan sejarahnya, bank sentral milik negara-negara dengan cadangan mata uang asing yang terbesar sekalipun dapat dikalahkan oleh kekuatan pasar valuta asing yang bebas.

Menurut survei BIS (Bank International for Settlement – bank sentral dunia), yang dilakukan pada akhir tahun 2004, nilai transaksi pasar valuta asing mencapai lebih dari USD$1,4 Trilyun per harinya. Dengan demikian, prospek investasi di perdagangan valuta asing adalah sangat bagus.
Mengingat tingkat likuiditas dan percepatan pergerakan harga yang tinggi tersebut, valuta asing juga telah menjadi alternatif yang paling populer karena ROI (Return On Investment atau kembalinya nilai investasi yang telah kita tanam) serta profit yang akan didapat bisa melebihi rata-rata perdagangan pada umumnya (biasanya rata-rata return berkisar lebih dari 5% – 10% per bulannya, bahkan bisa mencapai lebih dari 100% per bulannya untuk professional trader). Akibat pergerakan yang cepat tersebut, maka valuta asing juga beresiko tinggi apabila anda tidak mempunyai pengetahuan yang cukup serta pengaturan manajemen keuangan dengan baik.

Proses transaksi

Di bursa valas (valuta asing) ini orang dapat membeli ataupun menjual mata uang yang diperdagangkan. Secara obyektif adalah untuk mendapatkan profit atau keuntungan dari posisi transaksi yang anda lakukan. Di Bursa valas dikenal istilah Lot dan Pip. 1 Lot nilainya adalah $1000 dan 1 pip nilainya adalah $10. Sedangkan nilai Dollar di bursa valas berbeda dengan nilai Dollar yang kita kenal di Bank-bank. Nilai Dollar di bursa valas sangat bervariasi, 6000/8000 dan 10.000 Rupiah.

“Two Ways Opportunities”

Transaksi di valuta asing dapat dilakukan dengan cara dua arah dalam mengambil keuntungannya. Seseorang dapat membeli dahulu (open buy), lalu ditutup dengan menjual (sell) ataupun sebaliknya, melakukan penjualan dahulu, lalu ditutup dengan membeli. Dua keuntungan adalah :

  1. Kita melakukan beli/buy dan grafik bergerak naik lalu kita tutup dengan jual/sell saat grafik naik tinggi, maka kita untung.
  2. Kita memprediksikan grafik akan turun lalu kita cepat ambil posisi jual/sell dan kita lihat grafik terus menurun. Jika kita dapat menutup dengan beli/buy disaat grafik berada di point terendah, maka kita juga untung.

Pengaruh Rezim Moneter Internasional dalam Pergerakan Valas

Sejak masa pra perang dingin yang dimulai dengan perang ideology antara liberalisme dan marxisme, liberalisme barat berusaha menjadi ideology dasar dalam ekonomi politik internasional. Hal ini ditandai dengan lahirnya IMF (berdiri tahun1944, Bretton Woods) sebagai sebuah rezim moneter internasional yang ternyata amat berpengaruh terhadap negara-negara berkembang dalam menyesuaikan perubahan system perekonomian yang ada. Sistem-sistem moneter internasional mengalami perubahan yang mendasar menjadi empat tahap.

Bermula sejak 1971, dimana AS tidak lagi mampu mempertahankan konversi Dollarnya dengan harga emas. pada tahun 1973 sejak terjadinya perubahan mendasar pada sistem moneter internasional. Yaitu, ketika sebagian besar negara- negara di dunia mengubah sistem nilai tukarnya dari sistem nilai tukar tetap (fixed rate) ke sistem nilai tukar yang lebih fleksibel dengan menerapkan sistem nilai tukar mengambang bebas (free floating rate). Walau peran Dollar tetap dominan dalam berbagai transaksi internasioanal, tetapi dengan munculnya negara-negara Uni Eropa dan Jepang sebagai kekuatan baru dan makin terintegrasinya system perdagangan dunia, maka mata uang diluar Dollar AS seperti Yen Jepang dan Mark Jerman mulai dipercaya menjadi alat pembayaran internasional.

Dimulai sejak tahun 1999 yang dimulai dengan kelahiran Euro sebagai mata uang bersama negara-negara Uni Eropa kecuali Inggris yang bersikukuh mempertahankan Poundsterlingnya. Pada tahap ini mulai tampak kecenderungan ke arah system bipolar atau tripolar yang mengarah pada mobilitas keuangan yang terpusat pada Dollar AS dan Euro atau ditambah Yen Jepang. Keadaan ini mulai mengarah lagi ke system mengambang.

Pengaruh Rezim Moneter Internasional pada Negara Berkembang

Nilai total perdagangan valuta asing dunia berdasarkan data dari Forex Survey 2001 yang dilakukan oleh Bank for International Settlement (BIS) berkembang secara spektakuler. Perputaran dana per harinya yang pada tahun 1977 baru sebesar 5 miliar Dollar AS, meningkat menjadi 600 miliar Dollar AS di tahun 1987 dan 1 triliun Dollar AS di tahun 1992. Mencapai puncaknya menjadi 1,5 triliun Dollar AS pada tahun 1998, setelah itu menurun menjadi 1,2 triliun Dollar AS pada tahun 2001.

Penurunan ini terjadi karena beberapa faktor seperti digunakannya mata uang tunggal Eropa, Euro, yang menghilangkan perdagangan mata uang antarsesama negara anggota zona Euro. Krisis ekonomi di Asia dan resesi ekonomi di Amerika Serikat dan Jepang sebagai motor ekonomi dunia, juga penyebab turunnya transaksi. Konsolidasi industri perbankan internasional juga merupakan faktor yang mempengaruhi penurunan volume transaksi valas dunia.

Di sisi moneter, krisis ekonomi di Asia menyebabkan stabilitas ekonomi mengalami tekanan yang cukup berat, tercermin dari melemahnya nilai tukar dan tingginya laju inflasi. Adapun beberapa faktor eksternal yang mempengaruhinya antara lain adalah naiknya tingkat suku bunga luar negeri (Fed Fund) dan harga minyak dunia. Sementara itu pengaruh faktor domestik yang dominan antara lain tingginya ekspektasi masyarakat terhadap laju inflasi yang tinggi sebagai dampak dari kenaikan beberapa komponen adminstered prices, serta meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Dengan perkembangan tersebut, maka kebijakan moneter diarahkan ketat (tight bias) melalui instrumen suku bunga dengan tetap menjaga potensi pertumbuhan ekonomi yang ada.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s