Tugas Ekonomi Koperasi ( ARTIKEL ) Eksploitasi Jilbab saat Ramadhan

Posted: November 21, 2009 in ekonomi koperasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama  : Murdiana Utami

NPM : 10208861

Kelas : 2EA11

 

 

 

 

 

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN MANAJEMEN

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

Pendahuluan

 

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat religius masyarakat kita kian berkibar. Setidak-tidaknya ekspresi dan wujud dari geliat religius itu bisa di buktikan dari banyaknya perubahan-perubahan mendadak yang terjadi setiap menyambut bulan suci Ramadhan. Contoh, adanya larangan-larangan beroprasi tempat-tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan penuh. Sebagian daerah juga memberlakukan larangan bagi pemilik warung makan dan minum untuk berjualan secara terbuka disiang hari.

 

Demikian halnya dengan program-program televisi yang selama bulan Ramadhan, penuh dengan berita selebriti yang berjilbab. Atau padatnya tayangan-tayangan, baik sinetron, film dan lain-lain yang bertemakan keislaman. Hal-hal yang dulu kala sulit ditemukan. Tentu, perubahan budaya ’Islami’ semacam ini patut dibanggakan.

 

Sayang, perubahan itu terasa kurang progresif atau menyentuh kesadaran umat untuk benar-benar berislam secara kaffah (total). Sebab begitu Ramadhan berlalu, tempat-tempat hiburan kembali beroperasi. Prostitusi marak kembali. Korupsi merajerela setelah ‘istirahat sejenak’. Jilbab hanya dipakai sesaat, setelah itu pakaian kembali seperti semula. Aurat jadi pameran laris manis yang dipertontonkan secara terbuka. Sinetron bernapas islami sebagian masih berlanjut, meski tak sepadat masa Ramadhan. Jangan-jangan itu dipertahankan karena rating-nya yang masih tinggi.

 

Akhirnya bulan Ramadhan tak meninggalkan jejaknya. Dengan kata lain, bulan Ramadhan tiba-tiba jadi sekadar gaya hidup. Kesannya, hal-hal yang bersifat keagamaan jadi terasa musiman, hanya pada bulan Ramadhan saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

Fenomena Jilbab Musiman

 

Fenomena yang terjadi setiap bulan Ramadhan, jilbab mendadak jadi tren busana yang digandrungi dan laris manis. Sepintas lalu, sungguh mempesona pamor kibaran jilbab. Yang dipancarkan oleh berbagai kalangan wanita dari ragam latar belakang dan profesi. Disulap dengan mode yang demikian bagus, jilbab seolah jadi penegas simbol identitas keislaman seorang wanita muslimah. Itu jadi kebanggaan tersendiri, apalagi jika sampai diekspos oleh media masa.

 

Sebagai muslimah, hal itu wajar-wajar saja. Yang agak aneh, mereka yang terbiasa bangga memamerkan aurat badannya diberbagai media masa cetak dan elektronik, di bulan Ramadhan justru berhenti mendadak untuk ’cuti’ dari profesi kesehariannya. Untuk apa? Apalagi kalau bukan untuk memamerkan kain jilbabnya.

 

Kontan saja, ”alih profesi”pun tak dapat dielakkan. Mereka berlomba-lomba memamerkan dirinya memakai busana muslimah dengan harga tidak murah, demi ditonton dan disaksikan para penggemarnya. Sapa tahu, nanti bakal dianggap orang yang taat beribadah, meski hanya saat Ramadhan saja. Dengan simbol jilbab musiman itu, seolah-olah, mereka dihitung sebagai wanita shalihah dan layak jadi teladan bagi para muslimah lain.

 

Jilbab Sebagai Topeng Kepalsuan

 

Jilbab musiman tak ubahnya seperti alat yang hendak dijadikan sebagai ’mesin pencuci’ yang dengan mudah bisa mengubah wujud asli perilaku seseorang. Mereka yang suka jadi bunglon pun, sesuka hati mengeksploitasi jilbab demi mencari legitimasi publik. Jilbab jadi ’topeng kepalsuan’ dan komoditas untuk segala kepentingan.

 

Tren yang berkembang belakangan, ternyata banyak ragam jilbab yang dipakai selain untuk menyambut Ramadhan. Ada ’jilbab gaul’, pelesetan jilbab yang dipakai mereka yang mengklaim dirinya muslimah dengan mengenakan kain penutup kepala, tapi sikap tindak-tanduknya tidak jelas. Biasanya, jilbab gaul dipakai sekadar menutupi sebagian kepala saja, tidak seluruhnya. Visinya bukan untuk menutup aurat tapi sekadar gaya. Pemakai jilbab setengah aurat ini tak bisa mencegah kemungkaran. Pada siang hari bulan suci Ramadhan, dirinya tak segang bercumbu dengan sembarang laki-laki ditempat terbuka, itupun dengan embel-embel pakaian jilbab.

 

Kala musim kampanye tiba, menjamur pula ”jilbab politik” yang biasa digunakan oleh para polotisi ketika safari politik ke berbagai pelosok, pondok pesantren dan daerah-daerah basis massanya. Jilbab komoditas politik ini dipakai oleh elit politik yang turun lapangan kampanye untuk menjulang dukungan dan simpati publik. Ada juga ”jilbab asmara”, pakaian kaum wanita pemuja cinta yang sedang tergila-gila seorang pemuda pujaan hatinya. Jilbab dipakai agar ia bisa menaklukkan hati sang pemuda idamannya.

 

Selain itu, masih banyak jenis jilbab-jilbab yang dijadikan komoditas kepentingan, bukan untuk menutupi aurat yang semata mencari ridha Allah. Bahkan kini telah berkembang pemakai jilbab yang masih menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Lantas apa artinya berjilbab tapi aurat masih terbuka dengan manisnya, lekuk tubuh masih terlihat dengan seksinnya. Berjilbab tapi kok suka bercanda bebas dengan teman lelaki yang bukan muhrim. Berjilbab tapi kok bajunya  seperti kekurangan kain. Fenomena ini, meski amat disayangkan tapi itulah faktanya.

 

Jilbab Dalam Pandangan Islam

 

Arti kata Jilbab ketika Al-Qur’an diturunkan adalah kain yang menutupi aurat dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang dipakai pada lapisan kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita. Atau jilbab berarti kain yang lebih besar ukurannya dari kerudung (khimar), atau kain yang menutup semua badan.

 

Dari atas tampaklah jelas kalau jilbab yang di kenal oleh masyarakat Indonesia dengan arti atau bentuk yang sudah berubah dari arti asli Jilbab itu sendiri, dan perubahan yang demikian ini adalah bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah sebab perjalanan waktu dari masa Nabi Muhammad saw. sampai sekarang atau disebabkan jarak antar tempat dan komunitas masyarakat yang berbeda dan tentu mempunyai peradaban atau kebudayaan berpakaian yang berbeda.

 

Dilihat dari perspektif hukum fiqih (sebagai yurisprudensi Islam) sepakat (ittifaq) mengatakan, kontinuitas memakai jilbab adalah kewajiban bagi setiap muslimah (farduain).

Al-Qur’an Surat Al-Nur:31 dan al-Ahzab:59, adalah ayat yang tegas-tegas menyatakan diwajibkannya berjilbab secara kontinyu, tidak hanya pada waktu tertentu, misalnya hanya pada bulan Ramadhan saja. Ringkasnya menutup aurat dengan Jilbab adalah kewajiban seorang wanita muslimah tepat ketika ia berikrar menjadi seorang muslimah, tidak menunda-nunda dalam memakainya, tanpa pertimbangan apapun serta tanpa batas waktu.

 

Sebab itu, maka semestinya bagi komunitas berjilbab, terutama pemakai yang hanya sesaat mengenakan kain jilbab, tidak etis memamerkan diri diberbagai media masa. Sebab, jika benar mengikuti aturan berjilbab, maka kewajiban berjilbab berlaku untuk selamanya.

 

Itupun dilakukan dengan niat menjalankan perintah Allah semata, bukan utuk cari sensasi, popularitas dan simpati orang maupun fans-nya. Niat yang terakhir ini dalam agama disebut perbuatan riya’ dan sum’ah.

 

Nah, saat sedang melnjalankan ibadah puasa, setiap muslim harus lebih hati-hati agar jangan sampai berlaku riya’ dan sum’ah dalam beribadah. Bulan Ramadhan yang suci harus diaplikasikan untuk menggapai kesucian lahir maupun batin lainya. Itulah niat suci para pemakai jilbab sejati. Berbeda dengan pemakai jilbab musiman.

 

Barangkali sebagian orang berpikir, memakai jilbab meski hanya musiman itu masih lebih baik, ketimbang tidak berjilbab sama sekali seumur hidup. Apalagi semacam itu bisa-bisa saja, tapi tidak bisa dijadikan sebagai alas an pembenar perilaku jilbab musiman.

 

Realitasnya, sesuai kebiasaan dan profesi asli pemakai jilbab musiman , ketika telah lewat Ramadhan, mereka pun kembali berlomba-lomba memamerkan aurat badan, bukan malah terus menjaga kesuciannya.

 

Memang tidak bisa dinafikan juga, terdapat segelintir orang yang benar-benar ingin memulai belajar berbusana secara islami dengan memakai jilbab. Pada tahapan permulaan untuk niat mulia (berbusana islami) ini, memakai jilbab terkadang dilakukan setahap demi setahap hingga akhirnya nanti terbiasa berjilbab secara sempurna.

 

Jilbab sebagai lambang kemuliaan merupakan salah satu wujud pengakuan Islam akan harkat dan martabat kaum wanita. Lepasnya Jilbab justru mendorong ekploitasi yang merendahkan harkat kaum wanita, seperti yang banyak terjadi dewasa ini. Sehingga dengan kontinuitas berjilbab itu justru bisa menyelamatkan diri wanita dari korban eksploitasi. Makna simbolis dari pemakaian jilbab sebenarnya tidak hanya badannya saja yang selalu ditutupi kain jilbab, tapi juga menyebabkan akhlaknya akan benar-benar turut ‘berjilbab’. Ramadhan adalah momentum yang paling baik untuk saling mengingatkan kekhilafan dan pemahaman salah kaprah diantara sesame muslim.

Cara Berjilbab Menurut Syari’at

 

Kalau mau bicara tentang pakaian wanita muslimah yang ideal dan memenuhi seluruh persyaratan, maka sebagaimana yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan.

 

Artinya, keseluruh tubuh itu wajib ditutup dengan pakaian kecuali bagian muka dan tapak tangan saja. Sedangkan model pakaian, warna, motif, corak atau stylenya diserahkan kepada masing-masing budaya dan kebiasaan.

 

Asalkan kesemuanya itu memenuhi syarat standar busana muslimah yaitu ; tidak tembus pandang, tidak ketat hingga membentuk lekuk tubuh, tidak menyerupai pakaian laki-laki atau, tidak menyerupai pakaian ‘khas’ milik orang kafir atau pakaian orang fasik dan benar-benar menutup dan tidak ada yang dibuka atau dibelah sedemikian rupa sehingga bisa memperlihatkan aurat. Itu adalah standar ideal busana muslimah yang bila semua itu terpenuhi, maka sudah cukup. Adapun masalah jilbab gaul yang sekarang jadi mode, bisa kita lihat dari dua arah yang berbeda.

 

Arah yang pertama, bila kita melihat dari arah ideal. Maka jilbab mode itu jelas masih belum memenuhi semua persyaratan. Misalnya soal ketatnya pakaian itu sehingga tetap membentuk lekuk tubuh. Atau belahan-belahan tertentu yang masih juga memperlihatkan bagian aurat. Juga masalah menyerupai pakaian laki-laki dan seterusnya. Bila kita nilai dari arah ideal atau tidak, maka jilbab gaul itu tidak bisa dikatakan ideal alias tidak memenuhi syarat busana muslimah.

 

Arah yang kedua, kita memandang dari arah pakaian trendi di kalangan remaja gaul saat ini yang sedemikian seronok, terbuka, seksi dan cenderung liar dan a moral. Kita bisa mengatakan bahwa pakaian mereka itu sama saja dengan bukan pakaian, karena aurat yang terlihat bukan hanya ’sebagian’, tapi justru ’sebagian besar.’ Jadi pakaian mereka itu bukan setengah telanjang tapi 2/3 telanjang atau 4/5 telanjang.

Bila dari kalangan mereka ini ada yang mulai sadar dan ingin kembali kepada Islam lalu mulai coba-coba menggunakan busana muslimah meski ‘belum memenuhi standar ideal,’ maka kita perlu memberi support atau dukungan. Tentu saja dukungan ini sifatnya sementara, karena biar bagaimana pun pakaian idealnya belum terpenuhi.

 

Tapi support dan dukungan tetap dibutuhkan agar mereka sedikit demi sedikit bisa beradaptasi dengan busana muslimah. Karena kalau mau dibandingkan, biar bagaimana pun jilbal gaul itu tetap lebih baik dari pada baju minim yang mengubar nafsu itu.

 

Yang diperlukan adalah pendekatan dakwah yang baik dan simpatik kepada mereka agar keinginan baik mereka itu bisa dihargai lebih dahulu. Sambil perlahan-lahan kita mencoba menanamkan makna dan hakikat ajaran Islam secara lebih intensif dan mengena. Nanti pada akhirnya, bila penanaman itu mulai menghasilkan buah, mereka snediri yang akan mengganti jilbab gaulnya dengan busana muslimah yang ideal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Arti kata Jilbab ketika Al-Qur’an diturunkan adalah kain yang menutupi aurat dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang dipakai pada lapisan kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita. Atau jilbab berarti kain yang lebih besar ukurannya dari kerudung (khimar), atau kain yang menutup semua badan..

Banyak ragam jilbab yang dipakai selain untuk menyambut Ramadhan. Ada ’jilbab gaul’, pelesetan jilbab yang dipakai mereka yang mengklaim dirinya muslimah dengan mengenakan kain penutup kepala, tapi sikap tindak-tanduknya tidak jelas. Biasanya, jilbab gaul dipakai sekadar menutupi sebagian kepala saja, tidak seluruhnya.

Ada pula ”jilbab politik” ialah jilbab yang dipakai kala musim kampanye, yang biasa digunakan oleh para polotisi ketika safari politik ke berbagai pelosok, pondok pesantren dan daerah-daerah basis massanya.

Syarat standar busana muslimah yaitu ; tidak tembus pandang, tidak ketat hingga membentuk lekuk tubuh, tidak menyerupai pakaian laki-laki atau, tidak menyerupai pakaian ‘khas’ milik orang kafir atau pakaian orang fasik dan benar-benar menutup dan tidak ada yang dibuka atau dibelah sedemikian rupa sehingga bisa memperlihatkan aurat.

Menutup aurat dengan Jilbab adalah kewajiban seorang wanita muslimah tepat ketika ia berikrar menjadi seorang muslimah, tidak menunda-nunda dalam memakainya, tanpa pertimbangan apapun serta tanpa batas waktu.

 

Saran

 

Akan lebih baik lagi jika menutup erat-erat aurat wanita itu  tidak hanya dibulan suci yang penuh dengan keberkahan, tapi terus-menerus ada dibulan-bulan selanjutnya. Tentunya, berdasarkan pemahaman yang baik tentang kewajiban menutup aurat. Sehingga tidak ada lagi dijilbab sebagai tren atau mode sesaat yang akan habis masanya. Yang ada, jilbab sebagai pakaian taqwa yang bernilai dan kekal.

Tapi support dan dukungan tetap harus diberikan bagi mereka yang ingin mengenakan jilbab, agar mereka sedikit demi sedikit bisa beradaptasi dengan busana muslimah. Karena kalau mau dibandingkan, biar bagaimana pun jilbal gaul itu tetap lebih baik dari pada baju minim yang mengubar nafsu itu.

Sumber : Majalah Muslimah Edisi 199 Tahun 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s